Salam.
Saya sedang menangis sekarang ini... menangis sambil menaip. Menangis tapi airmata tak keluar. Menangis yang teresak-esak macam budak kecil buat drama depan orang ramai bila mak ayah dia tak bagi apa yang diminta. Ya, saya sedang menangis.
Bukan saya main-main. Tapi memang hati saya sedih dan sedang memberontak. Saya nak menangis, tapi dalam masa yang sama akal matang saya memberitahu, macam budak kecil... memang pun... jadi, biarlah nampak macam main-main dengan kesedihan tapi sebenarnya memang saya sedang berduka.
Apakah puncanya? Sila simpan reaksi anda, saya tak mahu tahu... kecuali tumpang bersedih.
Baca sini untuk keterangan lanjut... --> After 14 years...
Malas nak cerita panjang memandangkan ini kisah sedih. Orang bersedih mana boleh cakap banyak... nanti lagi sedih...
Huhuhuhuhu... Waaaaa!!!!! Why??? Por que??? Am crying and dying inside, you know... uhuk uhuk uhuk uhuk... *this is the real sound effect..* uhuk..
p/s : Patut lah diberi kesempatan bertemu untuk kali pertama dan terakhir dan sanggup pula melakukan kerja gila itu. Huuuuuuuuuu~~~~
Salam.
Peace.
Frank McCourt : Teacher Man
Instead of teaching, I told stories. Anything to keep them quiet and in their seats. They thought I was teaching. I thought I was teaching. I was learning. And you called yourself a teacher? I didn't call myself anything. I was more than a teacher. And less. In the high school classroom you are a drill sergeant, a rabbi, a shoulder to cry on, a disciplinarian, a singer, a low-lever scholar, a clerk, a referee, a clown, a counselor, a dress-code enforcer, a conductor, an apologist, a philosopher, a collaborator, a tap dancer, a politician, a therapist, a fool, a traffic cop, a priest, a mother-father-brother-sister-uncle-aunt, a bookkeeper, a critic, a psychologist, the last straw. - Frank McCourt: Teacher Man
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



No comments:
Post a Comment